AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH
SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN
MAKALAH
Diajukan
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : IAD, ISD, IBD.
Dosen
Pengampu : Sri Wahyuningsih
Disusun oleh :
Kelompok 1
Sofi
Nurjanah 1520410001
Fian
Rachma Gutama 1520410002
Muhammad
Riza Aftoni 1520410021
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
PRODI ZAKAT DAN WAKAF
TAHUN
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Sumber pokok ajaran Islam adalah
Al-Qur’an. Al-qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW
berbahasa arab melalui Malaikat Jibril secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah. As-Sunnah merupakan
sumber ajaran islam yang kedua. Segala perkataan. perbuatan dan takrir
Rasulullah adalah As-Sunnah. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua sumber ajaran
Islam yang kaya akan ilmu pengetahuan. Islam mewajibkan ummatnya untuk menuntut
ilmu sejak dari buaian sampai kelianglahat, kapanpun, dimanapun dan dari siapa
saja.
Seseorang yang telah memahami isi dari
Al-Qur’an mereka akan meyakini bahwa di dalam Al-Qur’an telah diisyaratkan
melalui ayat-ayat yang mengarah kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini
diperkuat dengan adanya As-Sunah yang merupakan penjelas dari ayat-ayat
Al-Qur’an yang masih bersifat global. Al-Qur’an menyebutkan tentang proses
penciptaan alam semesta, penciptaan makhluk hidup seperti manusia, dan
sebagainya.
Namun pada kenyataannya sebagian orang
mempunyai persepsi yang salah dalam memahami Al-Qur’an dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan. Hal ini terungkap dengan adanya beberapa kelompok yang mempunyai
anggapan bahwa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan cukup dengan membaca
ayat-ayat kauniyah di dalam Al-Qur’an tanpa mempelajari dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dengan penelitian, observasi, atau studi kasus tertentu.
Jadi, pengembangan ilmu pengetahuan dapat
dilakukan dengan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual tanpa
meninggalkan As-Sunnah yang merupakan penjelas dari ayat-ayat tersebut dan
didukung dengan penelitian dan pengukuran. Manusia akan menguasai pengetahuan
tentang sifat dan kelakuan alam sekitar, serta dapat mengelolanya dengan baik
sebagai khalifah yang bijaksana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa
pengertian dari Al-Qur’an. As-Sunnah dan ilmu pengetahuan?
2. Bagaimana
hubungan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ilmu pengetahuan?
3. Apa
bukti keterkaitan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber pengetahuan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ilmu Pengetahuan
1.
Al-Qur’an
Al-Qur’an secara etimologi berarti bacaan, sama dengan makna qiro’ah, Sedangkan secara terminologi
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingnya (mu’jizat), diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul dengan perantara Malaikat
Jibril alaihis salam, dimulai dengan
surat Al-Fatihah dan diakhiri denagn surat An-Nash, dan ditulis dalam
mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secar mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya meripakan suatu
ibadah.[1]
Al-Qur’an dikatakan juga sebagai mu’jizat yang keluar dan mu’jizat selalu
diperkuat dengan kemajuan ilmu pengetahuan.[2]
Petunjuk atau pedoman bagi ummat manusia tidak lain adalah Al-Qur’an
Al-Karim, Kitab Suci umat Islam yang merupan “hudal lin nass” atau petunjuk
bagi seluruh umat manusia tanpa memandang bangsa, suku atau golongan manusia.
Al-Qur’an sebagai “hudal lin naas” adalah fungsi paling utama dari Kitab Suci
Al-Qur’an.[3]
2.
As-Sunnah
Menurut ahli ushul “Sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Nabi
Muhammad SAW secara khusus. Ia tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an, tetapi
dinyatakan oleh Nabi Muhammad dan sekaligus merupakan penjelasan awal dari isi
Al-Qur’an”. Sedangkan menurut fuqaha “Sunnah itu berarti ketetapan dari Nabi
yang bukan fardlu dan bukan wajib.[4] Menurut
Al-Qur’an As-Sunnah adalah syari’an, hukum atau peraturan, Namun dalam hadist
juga dikatakan bahwa As-Sunnah adalah kebiasaan, tradisi, jalan hidup,
cara-cara dan kebiasaan.[5] As-Sunnah
merupakan penjelas dari ayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat global.
Sunnah merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim.
Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan keagamaan, kemanusiaan, dan
sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan
kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka.[6]
3.
Ilmu
Pengetahuan
Pengetahuan adalah berbagai gejala
yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal.[7]
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
B. Hubungan Antara
Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan
Al-Qur’an tidak akan pernah ada yang
menandinginginya, baik itu secara susunan kebahasaan, maupun isi kandungan dari
Al-Qur’an itu sendiri, tetapi As-Sunnah hampir sama statusnya dengan Al-Qur’an.
Seperti Al-Qur'an, As-Sunnah juga mengandung informasi
tentang beberapa hakikat yang berkaitan dengan masalah- masalah ghaib,
As-Sunnah juga memuat informasi tentang informasi tentang kejadian- kejadian
masa lalu, tentang awal penciptaan, tentang rasul- rasul dan nabi- nabi yang
tidak mampu diliput oleh historiografi konvensional dan perangkatnya,
Informasi- informasi sejarah masa lalu tersebut tidak diketahui kecuali dengan
melalui wahyu. Sunnah juga mengandung informasi- informasi tentang berbagai
peristiwa yang berkaitan dengaan masa depan. Demikian juga mengenai hal- hal
yang akan terjadi setelah hari kiamat.[8]
Harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara As-Sunnah dan
Al-Qur’an dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. Dari segi
redaksi, diyakini bahwa wahyu Al-Qur’an disusun langsung oleh Allah, Malaikat
Jibril hanya sekedar menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, dan beliaupun
langsung menyampaikan kepada umat, dan demikian seterusnya generasi demi
generasi. Wahyu Al-Qur’an bisa dipastikan tidak mengalami perubahan, karena
sejak diterimanya oleh Nabi, Al-Qur’an ditulis dan dihafal oleh sekian banyak
sahabat dan kemudian disampaikan kepada umat Islam. Berbeda dengan As-Sunnah,
yang pada umumnya disampaikan oleh orang perorang dan itupun seringkali denagn
redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan Rasulullah.[9]
As-Sunnah mempunyai peran penting terhadap Al-Qur’an, As-Sunnah sebagai
penjelas, pengukuh serta penetap hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.
Dalam pembahasan masalah pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dari segi islam, sudah selayaknya bila kita meneliti
kembali apa yang dikatakan oleh sumber ajarannya yaitu Al-qur’an. Karena pengembangan
merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mempunyai tujuan tertentu, maka perlu
kita ungkapkan terlebih dahulu apa tujuan totalitas manusia, yakni tujuan
hidupya di dunia ini menurut islam.[10]
Sebagai makhluk yang diberi
kelebihan-kelebihan, manusia dijadikan penguasa di bumi degan tugas, kewajiban
dan segala tanggung jawabnya, dia harus melakukan pengelolaan yang baik, untuk
itu ia harus mengetahui dan memahami benar-benar sifat dan kelakuan alam
disekitar nya harus dikelola itu, baik yang tak bernyawa maupun yang hidup
beerta masyarakatnya. Pengetahuan dan pemahaman ini dapat diperolehnya karena
manusia hidup didalam, dan dapat menginderakan alam fisis di sekelilingnya.
Sejak awal kelahiran, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu
besar terhadap ilmu pengetahuan. Bila kita memperhatikan ayat Al-Qur’an yang
pertama kali turun kepada Rasulullah SAW, yaitu QS, Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5,
kita diingatkan bahwa sejak semula Islam membawa semangat keilmuan. Ayat di
atas memerintahkan manusia agar gemar membaca, menulis, serta gemar melakukan
penelitian.[11]
Demikianlah keistimewaan Al-Qur’an memandang prospektif masa depan
dengan perintah membaca dan mengadakan penelitian untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan. Bahkan Rasulullah SAW dalam Haditsnya sangat menganjurkan agar
umat Islam senantiasa menkaji ilmu pengetahuan, Seperti dalam pernyataan beliau,
“Carilah ilmu sejak dalam buaian sampai
ke liang lahat” ; “Carilah Ilmu walau
sampai ke negeri Cina!”.
Pada masa Sahabat dan Tabi’in
perintah Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi sebuah etos keilmuan yang pada
gilirannya menimbulkan perkembangan ilmu dalam berbagai cabangnya.
Berkembangnya berbagai ilmu itulah yang kemudian menjadi pendorong perubahan
dan perkembangan masyarakat. Dengan demikian ilmu telah menjadi salah satu
unsur kebudayaan bahkan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam masyarakat
Muslim di masa lampau.[12]
Hal di atas menunjukkan bahwa betapa ajaran Islam sudah memperhatikan
tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan menyuruh kepada kaum muslimin untuk
berusaha mengembangkannya. Tentunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) juga harus diimbangi dengan Iman dan Taqwa. Karena IPTEK yang tidak
diiringi dengan Imtak, hanya akan menyebabkan kerusakan.
C. Bukti
Keterkaitan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah
sebagai Sumber Pengetahuan
Berikut ini adalah beberapa ayat Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan:
a) Bagaiamana
panadangan ilmu pengtahuan tentang isyarat
al-qur’an berkenaan dengan adanya makhluk hidup di luar bumi?
Mengenai adanya makhluk hidup yang
hidup diluar bumi memang sering ditanyakan banyak orang. Salah satu universitas
yang terkenal di AS yang berusaah
berkomunikasi dengan makhluk yang berada diluar ini dengan memasang antena
untuk mengumpulkan data dengan pertolongan suatu komputer, telah menelusuri
langit secara sistematis. Tetapi sampai sekarang apa yang mereka harapkan ,
yaitu tanda-tanda atau sinyal dari luar angkasa yang datang di bumi yang
ditangkap oleh alat itu, sama sekali tidak ada sesuatu yg menunjukkan adanya
makhluk hidup diluar bumi yang mempunyai kecerdasan , paling tidak sama dengan
manusia. Proyek ini diberi nama SETI (Search for extra terrestrial
intelligence). Mengapa orang mencari makhluk semacam itu? Karena dalam satu
galaksi yang normal terdapat 100 bilyun bintang. Matahari kita ini salah satu
bintang yang terdapat dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Di luar
galaksi kita terdapat 100 bilyun galaksi. Jadi orang menduga tentunya bahwa
diantara berbilyun-bilyun bintang dialam ini ada yang mempunyai planet seperti
bumi , yang dalam evolusi menghasilkan makhluk dengan kecerdasan tinggi seperti
kita, Inilah alasan mereka. Didalam al-qur’an memang ada ayat-ayat yang
mnyebutkan adanya makhluk yang berada dilangit, artinya di luar bumi, Hal ini
diterangkan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 49.
Tetapi apakah makhluk ini mempunyai kecerdasan setinggi manusia, tidak
dijelaskan. Namun, observasi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa matahari kita
mempunyai posisi yang khusus karena ia
terletak didalam galaksi, yang dalam gerak-putar mengelilingi pusatnya melewati
daerah yang memperlihatkan ‘perpadatan’. Waktu edar mengelilingi pusat galaksi
sekitar 200 juta tahun. Planet-planet dan bumi kita terbentuk dari materi antar
bintang yang tersapu-serta ketika
matahari melewati daerah di mana terjadi
‘perpadatan’ itu, sehingga timbul suatu sistem tata surya. Karena posisi
matahari bersifat khusus, maka hal ini berarti tidak semua bintang mempunyai
posisi yang sebaik matahari, sehingga dapat terbentuk sistem planet pada bintang itu. Oleh karenanya, maka
sebagian sarjana ada yang berpendapat, barangkali bumi ini yang khusus, yang
mampu menampung evolusi kehidupan menjadi manusia. Untuk dapat berevolusi
seperti itu, jarak antara planet yang bersangkutan dengan bintang yang diikutinya harus menjamin
suhu yang memadai, sedangkan komposisi
kimianya harus juga serupa. Untuk mendapatkan makhluk seperti manusia,
segala perubahan alam di planet itu harus seperti yang telah terjadi di bumi.
Jelas di sini bahwa untuk mendalami ayat 49 surah An Nahl kita harus
menggunakan sains dan teknologi.[13]
b) Gunung sebagai Pasak Bumi
Sebuah buku berjudul Earth adalah buku pegangan rujukan di banyak universitas di seluruh
dunia. Salah seorang pengarangnya adalah Profesor Emeritus Frank Press. Ia
adalah Penasehat Ilmu Pengetahuan dari mantan Presiden Amerika Jimmy Carter dan
selama 12 tahun menjadi presiden dari National Academy of Sciences, Washington,
DC. Buku tersebut menyatakan bahwa gunung-gunung
mempunyai akar di bawah mereka. Akar ini menghujam dalam, sehingga
seolah gunung-gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak.
Beginilah Al Qur'an menjelaskan tentang
gunung-gunung. Allah berfirman dalam AlQur’an surat An Naba’ ayat 6-7 yang
artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Ilmu bumi modern telah membuktikan bahwa
gunung-gunung memiliki akar di dalam tanah dan akar ini dapat mencapai
kedalaman yang berlipat dari ketinggian mereka di atas permukaan tanah. Jadi,
kata yang paling tepat untuk menggambarkan gunung-gunung berdasarkan informasi
ini adalah kata "pasak" karena bagian terbesar dari sebuah pasak
tersembunyi di dalam tanah. Pengetahuan semacam ini, tentang gunung-gunung yang
memiliki akar yang dalam, baru diperkenalkan di paruh kedua dari abad ke-19.
Sebagaimana pasak yang digunakan untuk menahan atau mencencang sesuatu agar
kokoh, gunung-gunung juga memiliki fungsi penting dalam menyetabilkan kerak
bumi. Mereka mencegah goyahnya tanah. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat An
Nahl ayat 15 yang artinya: “Dan Dia menancapkan
gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan
Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”[14]
c) Baju besi (Perisai)
Allah SWT berfirman dalam Al
Qur’an surat Al Anbiya’: 80, yang artinya: “Dan telah kami ajarkan pada Daud
membuat baju besi (perisai) untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu.
Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).”
Ayat tersebut menjelaskan tentang ilmu
Metalurgi, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi tentang bagaimana mengerjakan
logam (besi) agar bisa dibuat baju besi (perisai) sehingga pemakainya tahan
terhadap sabetan pedang dan juga tidak tembus anak panah. Dengan teknologi baju
besi nabi Daud dapat memenangkan peperangannya. Pada saat ini juga telah dibuat
baju (rompi) tahan peluru yang di pakai para pejabat Negara dan juga para
petugas keamanan demi keselamatan dari ancaman tembakan.[15]
Berikut ini adalah beberapa bukti As-Sunnah sebagai sumber pengetahuan:
a) Bintang-bintang di langit
Nabi
bersabda:
النُّجُوْمُ
أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَأِذَا ذَهَبَتِ النُّجُوْمُ أَتَى السَّمَاءَ مَا
تُوْعَدُوْنَ وَ أَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِى فَأِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى
مَا يُوْعَدُوْنَ وَأَصْحَابِى أَمَنَةٌ لِأُمَّتِى فَأِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِى
أَتَى أُمَّتِى مَا يُوْعَدُوْنَ
Artinya:
“Bintang-bintang adalah pengaman bagi langit, jika bintang mati, maka datanglah
pada langit sesuatu yang mengancamnya. Dan aku adalah pengaman bagi sahabatku,
jika aku mati, maka datanglah kepada para sahabat sesuatu yang mengancam mereka.
Sahabatku adalah pengaman umatku, jika mereka mati, maka datanglah kepada
umatku sesuatu yang mengancam mereka”.[16]
Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadits ini hanya membahas satu larik saja,
yaitu sabda Nabi: “Bintang-bintang adalah pengaman langit. Jika bintang mati,
maka datanglah pada langit sesuatu yang mengancamnya.”
Maksud dari
kematian bintang adalah meredup dan memudarnya sinar bintang. Sedang maksud
dari “sesuatu yang mengancam langit” adalah tersingkap, terpecah, terbuka dan
perubahan langit menjadi sesuatu yang tidak terurus, diterlantarkan, dan
dipenuhi asap dan kabut.
Bintang merupakan benda langit yang terbesar di langit dunia.
Bintang berbentuk bulat atau semi bulan, berbentuk gas, menyala-nyala, bersinar
dengan sendirinya, dan terikat dengan benda langit lainnya melalui daya
gravitasi meskipun berbentuk gas. Bintang menebarkan sinar yang dilihat dan
sinar yang tidak dilihat akibat pengaruh gelombang cahaya.
Hadits ini
merupakan bukti yang menegaskan kebenaran kenabian, kerasulan, dan perkataan
Nabi pada masa ketika orang-orang kafir dan musyrik yang menjadi mayoritas masyarakat kala itu yang berusaha mengingkari
kenabiannya. Karena itu, pemanfaatan gebrakan ilmiah hadits-hadits Rasulullah
dalam dakwah Islam pada era ilmu dan teknologi sekarang ini, dimana jarak
antarnegara dan kawasan sudah begitu pendek dan berbagai ranah peradaban dengan
semua aspeknya.[17]
b) Ka’bah adalah poros alam semesta
Mujahid meriwayatkan dari Nabi Muhammad. Beliau bersabda : “(Baitullah) Al-Harun adalah tanah suci poros
tujuh langit dan tujuh bumi.“
Hadis ini mengandung
pengertian bahwa Ka’bah merupakan poros atau sentral alam semesta. Al-Qur’an
selalu membandingkan antar langit dan bumi, meskipun bumi relatif lebih kecil
jika dibandingkan dengan kebesaran langit. Dan perbandingan ini tidak mungkin
dilakukan kecuali jika bumi memiliki posisi istimewa dipusat semesta. [18]
Diameter segala bentuk geometris adalah garis yang bertemu diantara dua
ujungnya, melewati pusat (titik tengah). Penjuru langit tidak mungkin sama
dengan penjuru bumi kecuali jika bumi menjadi pusat atau titik tengah langit.
Ketujuh bumi semuanya berada dibumi kita. Lapisan luar satu bagian bumi
menutupi lapisan dalam bagian bumi lain. Begitujuga tujuh langit semuanya
menaungi kita pada tingkatan yang jelas mengelilingi matahari. Bagian luar
menutupi bagian dalam langit yang lain. Dan ka’bah berada di tengah-tengah
lapisan pertama bumi, yaitu daratan, sementara di bawahnya terdapat enam
lapisan bumi yang lain,dengan posisi demikian, ka’bah berarti menjadi poros
tujuh langit dan tujuh bumi.
Jikalau Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak menjelaskan kepada kita bahwa ada
tujih langit berlapis-lsapis, tujuh lapisan bumi yang berposisi pada sentral
atau titik nolnya, dan Ka’bah merupakan titik tengah antara antar tujuh langit
dan tujuh bumi, maka selamanya manusia tidak akan mempunyai media untuk mengetahui
hal itu, meskipun penelitian tentang struktur dalam bumi telah membuktikan akan
adanya tujuh lapisab yang berbeda, bagian luar ditutupi bagian dalam lapisan
yang lain, begitu juga dengan langit, saling berhimpitan, khususnya penelitian
astronomi modern yang telah yang telah membuktikan dengan sejumlah data
matematis bahwa alam kita ini bergaris kurva. Satu catatan ini sebagai bukti
penetapan bahwa tujuh langit dan tujuh bumi saling berhimpitan mengelilingi
satu pusat yakni bumi itu sendiri, tepatnya di Ka’bah, dan Ka’bah merupakan
poros atau titik tengah langit dan bumi.[19]
c) Obat penawar dan penyakit di sayap
lalat
“ Jika seekor lalat jatuh dalam minuman salah seorang di antara kamu
maka hendak lah ia membenamkannya (sekalian untuk)kemudian mengangkatnya,
Sesungguhnya didalam salah satu sayapnya terdapat penyakit dan disayap yang
lain terdapat obat penawar”.[20]
Hadis-hadis ini juga diriwayatkan oleh
para imam hadis, seperti Abu Dawud, Al-Baihaqi, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi,
Ibnu Hibban, Ibnu Khuzainah dan lain lain.
Maksud hadis ini pada salah satu sayap
lalat terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat obat penawar untuk
penyakit tersebut. Dan ketika lalt terjatuh dalam makanan atau minuman, dia
akan otomatis mengepakkan sayapnya yang mengandung racun sebagai bentuk
pertahanan diri.
Sebagian orang keberatan terhadap
kemungkinan dicelupkannya lalat ke dalam makanan atau minuman yang kemasukan
lalat, untuk kemudian memakan kembali maknan tersebut. Namun, kebrratan mereka
kurang tepat. Mereka lupa bahwa hal tersebut dilakukan jika dalam keadaan yang
sangat darurat, misalnya ketika seseorang berada di tengah padang pasir dan
tidak meiliki apapun kecuali segelas air atau segelas minuman yang telah
kemasukan lalat itu, sedang dia khawatir akan meninggal dunia jika tidak
mengonsumsi minuman ini, sehingga dia harus menolak dua bahaya sekaligus:
bahaya kematian karena lapar dan dahaga atau bahaya kematian karena kuman,
bakteri dan virus yang dibawa lalat dalam minumannya.
Hadis ini mengisyaratkan untuk mencelupkan
lalat dalam minuman hingga obat yang ada pada salah satu sayap lalat tersebut
dapat menyingkirkan penyakit yang dibawa sayap yang lain. Orang yang masih
keberatan dan tidak dapat diterima kemungkinan meminum minuman yang sudah
terceburi lalat, sedangkang dia sendiri belum pernah mengalami keadaan draurat
yang memaksanya melakukan hal ini, maka dia tidak bisa meragukan ke-shahihan
hadis ini begitu saja, hanya karena dia
tidak dapat meminum minuman yang telah terceburi lalat yang identik dengan
kotoran dan pembawa penyakit. Sebab hadis ini memiliki sanad yang shahih
sebagaimana yang ditetapkan Imam Al-Bukhori. Selain itu hadis ini juga shahih
secara matan. Pertama, karena dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, Kedua, karena
telah teruji ke-shahih-annya dari dua sisi yakni secara ilmiah dan praktis. [21]
d) Siklus tahun
Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
“Sesungguhnya
zaman telah berputar sebagaimana kondisinya sejak Allah menciptakan langit dan
bumi, Satu tahun terdiri dari duabelas bulan, Ada empat bulan suci didalamnya,
Tiga (diantaranya) berturut-turut yakni Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram,
dan Rajab Mudhar (yang jatuh) antara Jumada dan Sya’ban”.[22]
Penegasan Rasulullah bahwa satu tahun
terdiri dari dua belas bulan adalah pandangan sains yang penuh kemu’jizatan.
Sebab tahun bintang apapun dalam tata surya ini adalah kurun waktu yang dilalui
selama perputaran penuhnya mengelilingi matahari. Lama kurun waktu ini ditentukan
oleh lama rata-rata radius orbit, yaitu rata-rata kejauhan planet dari matahari.
Kecepatan pergerakan benda langit dan kedua fakta ini sudah eksis sejak awal
mula penciptaan langit dan bumi. Sehingga perubahan apapun yang terjadi di
langit dan bumi akan menimbulkan guncangan besar dalam sistem tata surya yang
sudah sejak bertriliun-triliun tahun berjalan ajeg dengan satu sistem sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.
Fakta telah menunjukkan bahwa waktu
bukanlah benda materi yang berputar akan tetapi waktu adalah masa yang berlalu.
Perputaran waktu merupakan isyarat akan adanya perputaran alam semesta dan
perputaran semua benda angkasa beserta satelit-satelit di dalamnya.[23]
e) Manfaat siwak
Nabi
bersabda:
“Seandainya
tidak terlalu memberakan umatku, niscaya sudah aku perintahkan mereka untuk
bersiwak setiap kali hendak shalat”.
Salah satu petunjuk nabi dalam konteks ini
adalah imbauan untuk menggunakan siwak setiap kali hendak salat (minial lima
kali dalam sehari). Siwak adalah batang semak (pohon kecil-kecil) yang biasa
dikenal dengan istilahh “ara”. Namun, siwak juga dapat dibuat dari batang kayu
dari pohin-pohon kecil seperti kayu zaitun liar atau pohon sambur. Siwak yang
paling baik kualitasnya adalah siwak yang dibuat dari akar-akar pohon ara,
sedangkan siwak yang dibuat dari cabang-cabang pohon ara kualitasnya lebih
rendah.
Penelitian laboratorium atas batang pohon
ara (siwak) membuktikan bahwa ia mengandung sejumlah komposisi kimia yang dapat
menjaga gigi dari gangguan kerapuhan dan kebusukan, dan merawat gusi dari
peradangan, misalnya asam acrid. Juga komposisi kimia lainnya seperti minyak
lada dan gula anggur yang mempunyai aroma menyengat dan rasa menggigit, Dua
komposisi kimia ini memiliki kemampuan luar biasa untuk membinasakan
kuman-kuman mulut.[24]
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Al-Qur’an
adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,, penutup para Nabi
dan Rasul dengan perantara Malaikat Jibril, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan
diakhiri denagn surat An-Nash, serta mempelajarinya meripakan suatu ibadah. Sunnah
adalah sesuatu yang dinukil dari Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, perbuatan
maupun takrir Nabi. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia.
2. Hubungan antara Al-Qur’an dan
As-Sunnah dengan ilmu pengetahuan adalah suatu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan, saling menguatkan antara keduanya, As-Sunnah merupakan penjelas
dari Al-Qur’an yang banyak menerangkan tentang ilmu pengetahuan.
3. Al-Qur’an tidak hanya berisikan
anjuran-anjuran dan tata cara beribadah saja akan tetapi lebih dari itu, di
dalamnya terdapat banyak khasanah keilmuan yang luar biasa, Seperti Al-Qur’an,
Sunnah merupakan sumber ilmu pengetahuan keagamaan, kemanusiaan, dan sosial
yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan
kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka.
B. SARAN
Setelah
mengetahui makna dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ilmu pengetahuan serta fungsi
dan keterkaitan satu sama lain, penulis mengharapkan bahwa hendaknya
pengembangan ilmu
pengetahuan dapat dilakukan dengan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara
kontekstual tanpa meninggalkan As-Sunnah yang merupakan penjelas dari ayat-ayat
tersebut dan didukung dengan penelitian dan pengukuran.
No comments:
Post a Comment