Wednesday, 28 October 2015

AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN



AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH
SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN
MAKALAH
Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : IAD, ISD, IBD.
Dosen Pengampu : Sri Wahyuningsih






Disusun oleh :
Kelompok 1
Sofi Nurjanah                          1520410001
Fian Rachma Gutama             1520410002
Muhammad Riza Aftoni         1520410021

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM
PRODI ZAKAT DAN WAKAF
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
     Sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an. Al-qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW berbahasa arab melalui Malaikat Jibril secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah. As-Sunnah merupakan sumber ajaran islam yang kedua. Segala perkataan. perbuatan dan takrir Rasulullah adalah As-Sunnah. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua sumber ajaran Islam yang kaya akan ilmu pengetahuan. Islam mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai kelianglahat, kapanpun, dimanapun dan dari siapa saja.
     Seseorang yang telah memahami isi dari Al-Qur’an mereka akan meyakini bahwa di dalam Al-Qur’an telah diisyaratkan melalui ayat-ayat yang mengarah kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini diperkuat dengan adanya As-Sunah yang merupakan penjelas dari ayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat global. Al-Qur’an menyebutkan tentang proses penciptaan alam semesta, penciptaan makhluk hidup seperti manusia, dan sebagainya.
     Namun pada kenyataannya sebagian orang mempunyai persepsi yang salah dalam memahami Al-Qur’an dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini terungkap dengan adanya beberapa kelompok yang mempunyai anggapan bahwa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan cukup dengan membaca ayat-ayat kauniyah di dalam Al-Qur’an tanpa mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan penelitian, observasi, atau studi kasus tertentu.
     Jadi, pengembangan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual tanpa meninggalkan As-Sunnah yang merupakan penjelas dari ayat-ayat tersebut dan didukung dengan penelitian dan pengukuran. Manusia akan menguasai pengetahuan tentang sifat dan kelakuan alam sekitar, serta dapat mengelolanya dengan baik sebagai khalifah yang bijaksana.

B.     Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari Al-Qur’an. As-Sunnah dan ilmu pengetahuan?
2.      Bagaimana hubungan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ilmu pengetahuan?
3.      Apa bukti keterkaitan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah  sebagai sumber pengetahuan?




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ilmu Pengetahuan
1.    Al-Qur’an
     Al-Qur’an secara etimologi berarti bacaan, sama dengan makna qiro’ah, Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingnya (mu’jizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul dengan perantara Malaikat Jibril alaihis salam, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri denagn surat An-Nash, dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secar mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya meripakan suatu ibadah.[1] Al-Qur’an dikatakan juga sebagai mu’jizat yang keluar dan mu’jizat selalu diperkuat dengan kemajuan ilmu pengetahuan.[2]
     Petunjuk atau pedoman bagi ummat manusia tidak lain adalah Al-Qur’an Al-Karim, Kitab Suci umat Islam yang merupan “hudal lin nass” atau petunjuk bagi seluruh umat manusia tanpa memandang bangsa, suku atau golongan manusia. Al-Qur’an sebagai “hudal lin naas” adalah fungsi paling utama dari Kitab Suci Al-Qur’an.[3]
2.    As-Sunnah
     Menurut ahli ushul “Sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Nabi Muhammad SAW secara khusus. Ia tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an, tetapi dinyatakan oleh Nabi Muhammad dan sekaligus merupakan penjelasan awal dari isi Al-Qur’an”. Sedangkan menurut fuqaha “Sunnah itu berarti ketetapan dari Nabi yang bukan fardlu dan bukan wajib.[4] Menurut Al-Qur’an As-Sunnah adalah syari’an, hukum atau peraturan, Namun dalam hadist juga dikatakan bahwa As-Sunnah adalah kebiasaan, tradisi, jalan hidup, cara-cara dan kebiasaan.[5] As-Sunnah merupakan penjelas dari ayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat global.
     Sunnah merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim. Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan keagamaan, kemanusiaan, dan sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka.[6]
3.    Ilmu Pengetahuan
     Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal.[7] Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.

B.     Hubungan Antara Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan
     Al-Qur’an tidak akan pernah ada yang menandinginginya, baik itu secara susunan kebahasaan, maupun isi kandungan dari Al-Qur’an itu sendiri, tetapi As-Sunnah hampir sama statusnya dengan Al-Qur’an.
     Seperti Al-Qur'an, As-Sunnah juga mengandung informasi tentang beberapa hakikat yang berkaitan dengan masalah- masalah ghaib, As-Sunnah juga memuat informasi tentang informasi tentang kejadian- kejadian masa lalu, tentang awal penciptaan, tentang rasul- rasul dan nabi- nabi yang tidak mampu diliput oleh historiografi konvensional dan perangkatnya, Informasi- informasi sejarah masa lalu tersebut tidak diketahui kecuali dengan melalui wahyu. Sunnah juga mengandung informasi- informasi tentang berbagai peristiwa yang berkaitan dengaan masa depan. Demikian juga mengenai hal- hal yang akan terjadi setelah hari kiamat.[8]
     Harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara As-Sunnah dan Al-Qur’an dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini bahwa wahyu Al-Qur’an disusun langsung oleh Allah, Malaikat Jibril hanya sekedar menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, dan beliaupun langsung menyampaikan kepada umat, dan demikian seterusnya generasi demi generasi. Wahyu Al-Qur’an bisa dipastikan tidak mengalami perubahan, karena sejak diterimanya oleh Nabi, Al-Qur’an ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian disampaikan kepada umat Islam. Berbeda dengan As-Sunnah, yang pada umumnya disampaikan oleh orang perorang dan itupun seringkali denagn redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan Rasulullah.[9] As-Sunnah mempunyai peran penting terhadap Al-Qur’an, As-Sunnah sebagai penjelas, pengukuh serta penetap hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.
     Dalam pembahasan masalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari segi islam, sudah selayaknya bila kita meneliti kembali apa yang dikatakan oleh sumber ajarannya  yaitu Al-qur’an. Karena pengembangan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mempunyai tujuan tertentu, maka perlu kita ungkapkan terlebih dahulu apa tujuan totalitas manusia, yakni tujuan hidupya di dunia ini menurut islam.[10]
     Sebagai makhluk yang diberi kelebihan-kelebihan, manusia dijadikan penguasa di bumi degan tugas, kewajiban dan segala tanggung jawabnya, dia harus melakukan pengelolaan yang baik, untuk itu ia harus mengetahui dan memahami benar-benar sifat dan kelakuan alam disekitar nya harus dikelola itu, baik yang tak bernyawa maupun yang hidup beerta masyarakatnya. Pengetahuan dan pemahaman ini dapat diperolehnya karena manusia hidup didalam, dan dapat menginderakan alam fisis di sekelilingnya.
     Sejak awal kelahiran, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap ilmu pengetahuan. Bila kita memperhatikan ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW, yaitu QS, Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, kita diingatkan bahwa sejak semula Islam membawa semangat keilmuan. Ayat di atas memerintahkan manusia agar gemar membaca, menulis, serta gemar melakukan penelitian.[11]
     Demikianlah keistimewaan Al-Qur’an memandang prospektif masa depan dengan perintah membaca dan mengadakan penelitian untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Bahkan Rasulullah SAW dalam Haditsnya sangat menganjurkan agar umat Islam senantiasa menkaji ilmu pengetahuan, Seperti dalam pernyataan beliau, “Carilah ilmu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat” ; “Carilah Ilmu walau sampai ke negeri Cina!”.
      Pada masa Sahabat dan Tabi’in perintah Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi sebuah etos keilmuan yang pada gilirannya menimbulkan perkembangan ilmu dalam berbagai cabangnya. Berkembangnya berbagai ilmu itulah yang kemudian menjadi pendorong perubahan dan perkembangan masyarakat. Dengan demikian ilmu telah menjadi salah satu unsur kebudayaan bahkan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam masyarakat Muslim di masa lampau.[12]
     Hal di atas menunjukkan bahwa betapa ajaran Islam sudah memperhatikan tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan menyuruh kepada kaum muslimin untuk berusaha mengembangkannya. Tentunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) juga harus diimbangi dengan Iman dan Taqwa. Karena IPTEK yang tidak diiringi dengan Imtak, hanya akan menyebabkan kerusakan.

C.    Bukti Keterkaitan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah  sebagai Sumber Pengetahuan
     Berikut ini adalah beberapa ayat Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan:
a)    Bagaiamana panadangan ilmu pengtahuan tentang isyarat  al-qur’an berkenaan dengan adanya makhluk hidup di luar bumi?
          Mengenai adanya makhluk hidup yang hidup diluar bumi memang sering ditanyakan banyak orang. Salah satu universitas yang terkenal di AS  yang berusaah berkomunikasi dengan makhluk yang berada diluar ini dengan memasang antena untuk mengumpulkan data dengan pertolongan suatu komputer, telah menelusuri langit secara sistematis. Tetapi sampai sekarang apa yang mereka harapkan , yaitu tanda-tanda atau sinyal dari luar angkasa yang datang di bumi yang ditangkap oleh alat itu, sama sekali tidak ada sesuatu yg menunjukkan adanya makhluk hidup diluar bumi yang mempunyai kecerdasan , paling tidak sama dengan manusia. Proyek ini diberi nama SETI (Search for extra terrestrial intelligence). Mengapa orang mencari makhluk semacam itu? Karena dalam satu galaksi yang normal terdapat 100 bilyun bintang. Matahari kita ini salah satu bintang yang terdapat dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Di luar galaksi kita terdapat 100 bilyun galaksi. Jadi orang menduga tentunya bahwa diantara berbilyun-bilyun bintang dialam ini ada yang mempunyai planet seperti bumi , yang dalam evolusi menghasilkan makhluk dengan kecerdasan tinggi seperti kita, Inilah alasan mereka. Didalam al-qur’an memang ada ayat-ayat yang mnyebutkan adanya makhluk yang berada dilangit, artinya di luar bumi, Hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 49.
     Tetapi apakah makhluk ini mempunyai kecerdasan setinggi manusia, tidak dijelaskan. Namun, observasi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa matahari kita mempunyai posisi yang khusus  karena ia terletak didalam galaksi, yang dalam gerak-putar mengelilingi pusatnya melewati daerah yang memperlihatkan ‘perpadatan’. Waktu edar mengelilingi pusat galaksi sekitar 200 juta tahun. Planet-planet dan bumi kita terbentuk dari materi antar bintang yang  tersapu-serta ketika matahari melewati  daerah di mana terjadi ‘perpadatan’ itu, sehingga timbul suatu sistem tata surya. Karena posisi matahari bersifat khusus, maka hal ini berarti tidak semua bintang mempunyai posisi yang sebaik matahari, sehingga dapat terbentuk sistem planet  pada bintang itu. Oleh karenanya, maka sebagian sarjana ada yang berpendapat, barangkali bumi ini yang khusus, yang mampu menampung evolusi kehidupan menjadi manusia. Untuk dapat berevolusi seperti itu, jarak antara planet yang bersangkutan  dengan bintang yang diikutinya harus menjamin suhu yang memadai, sedangkan komposisi  kimianya harus juga serupa. Untuk mendapatkan makhluk seperti manusia, segala perubahan alam di planet itu harus seperti yang telah terjadi di bumi. Jelas di sini bahwa untuk mendalami ayat 49 surah An Nahl kita harus menggunakan sains dan teknologi.[13]
b)   Gunung sebagai Pasak Bumi
     Sebuah buku berjudul Earth adalah buku pegangan rujukan di banyak universitas di seluruh dunia. Salah seorang pengarangnya adalah Profesor Emeritus Frank Press. Ia adalah Penasehat Ilmu Pengetahuan dari mantan Presiden Amerika Jimmy Carter dan selama 12 tahun menjadi presiden dari National Academy of Sciences, Washington, DC. Buku tersebut menyatakan bahwa gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka. Akar ini menghujam dalam, sehingga seolah gunung-gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak.
     Beginilah Al Qur'an menjelaskan tentang gunung-gunung. Allah berfirman dalam AlQur’an surat An Naba’ ayat 6-7 yang artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?”
     Ilmu bumi modern telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar di dalam tanah dan akar ini dapat mencapai kedalaman yang berlipat dari ketinggian mereka di atas permukaan tanah. Jadi, kata yang paling tepat untuk menggambarkan gunung-gunung berdasarkan informasi ini adalah kata "pasak" karena bagian terbesar dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah. Pengetahuan semacam ini, tentang gunung-gunung yang memiliki akar yang dalam, baru diperkenalkan di paruh kedua dari abad ke-19. Sebagaimana pasak yang digunakan untuk menahan atau mencencang sesuatu agar kokoh, gunung-gunung juga memiliki fungsi penting dalam menyetabilkan kerak bumi. Mereka mencegah goyahnya tanah. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 15 yang artinya: “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”[14]
c)    Baju besi (Perisai)
     Allah SWT  berfirman dalam Al Qur’an surat Al Anbiya’: 80, yang artinya: “Dan telah kami ajarkan pada Daud membuat baju besi (perisai) untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).”
     Ayat tersebut menjelaskan tentang ilmu Metalurgi, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi tentang bagaimana mengerjakan logam (besi) agar bisa dibuat baju besi (perisai) sehingga pemakainya tahan terhadap sabetan pedang dan juga tidak tembus anak panah. Dengan teknologi baju besi nabi Daud dapat memenangkan peperangannya. Pada saat ini juga telah dibuat baju (rompi) tahan peluru yang di pakai para pejabat Negara dan juga para petugas keamanan demi keselamatan dari ancaman tembakan.[15]
     Berikut ini adalah beberapa bukti As-Sunnah sebagai sumber pengetahuan:
a)    Bintang-bintang di langit
               Nabi bersabda:
النُّجُوْمُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَأِذَا ذَهَبَتِ النُّجُوْمُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوْعَدُوْنَ وَ أَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِى فَأِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى مَا يُوْعَدُوْنَ وَأَصْحَابِى أَمَنَةٌ لِأُمَّتِى فَأِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِى أَتَى أُمَّتِى مَا يُوْعَدُوْنَ
Artinya: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi langit, jika bintang mati, maka datanglah pada langit sesuatu yang mengancamnya. Dan aku adalah pengaman bagi sahabatku, jika aku mati, maka datanglah kepada para sahabat sesuatu yang mengancam mereka. Sahabatku adalah pengaman umatku, jika mereka mati, maka datanglah kepada umatku sesuatu yang mengancam mereka”.[16]
     Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadits ini hanya membahas satu larik saja, yaitu sabda Nabi: “Bintang-bintang adalah pengaman langit. Jika bintang mati, maka datanglah pada langit sesuatu yang mengancamnya.”
     Maksud dari kematian bintang adalah meredup dan memudarnya sinar bintang. Sedang maksud dari “sesuatu yang mengancam langit” adalah tersingkap, terpecah, terbuka dan perubahan langit menjadi sesuatu yang tidak terurus, diterlantarkan, dan dipenuhi asap dan kabut.
Bintang merupakan benda langit yang terbesar di langit dunia. Bintang berbentuk bulat atau semi bulan, berbentuk gas, menyala-nyala, bersinar dengan sendirinya, dan terikat dengan benda langit lainnya melalui daya gravitasi meskipun berbentuk gas. Bintang menebarkan sinar yang dilihat dan sinar yang tidak dilihat akibat pengaruh gelombang cahaya.
     Hadits ini merupakan bukti yang menegaskan kebenaran kenabian, kerasulan, dan perkataan Nabi pada masa ketika orang-orang kafir dan musyrik yang menjadi mayoritas  masyarakat kala itu yang berusaha mengingkari kenabiannya. Karena itu, pemanfaatan gebrakan ilmiah hadits-hadits Rasulullah dalam dakwah Islam pada era ilmu dan teknologi sekarang ini, dimana jarak antarnegara dan kawasan sudah begitu pendek dan berbagai ranah peradaban dengan semua aspeknya.[17]
b)   Ka’bah adalah poros alam semesta
     Mujahid meriwayatkan dari Nabi Muhammad. Beliau bersabda : “(Baitullah) Al-Harun adalah tanah suci poros tujuh langit dan tujuh bumi.“
          Hadis ini mengandung pengertian bahwa Ka’bah merupakan poros atau sentral alam semesta. Al-Qur’an selalu membandingkan antar langit dan bumi, meskipun bumi relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan kebesaran langit. Dan perbandingan ini tidak mungkin dilakukan kecuali jika bumi memiliki posisi istimewa dipusat semesta. [18]
     Diameter segala bentuk geometris adalah garis yang bertemu diantara dua ujungnya, melewati pusat (titik tengah). Penjuru langit tidak mungkin sama dengan penjuru bumi kecuali jika bumi menjadi pusat atau titik tengah langit.
     Ketujuh bumi semuanya berada dibumi kita. Lapisan luar satu bagian bumi menutupi lapisan dalam bagian bumi lain. Begitujuga tujuh langit semuanya menaungi kita pada tingkatan yang jelas mengelilingi matahari. Bagian luar menutupi bagian dalam langit yang lain. Dan ka’bah berada di tengah-tengah lapisan pertama bumi, yaitu daratan, sementara di bawahnya terdapat enam lapisan bumi yang lain,dengan posisi demikian, ka’bah berarti menjadi poros tujuh langit dan tujuh bumi.
     Jikalau Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak menjelaskan kepada kita bahwa ada tujih langit berlapis-lsapis, tujuh lapisan bumi yang berposisi pada sentral atau titik nolnya, dan Ka’bah merupakan titik tengah antara antar tujuh langit dan tujuh bumi, maka selamanya manusia tidak akan mempunyai media untuk mengetahui hal itu, meskipun penelitian tentang struktur dalam bumi telah membuktikan akan adanya tujuh lapisab yang berbeda, bagian luar ditutupi bagian dalam lapisan yang lain, begitu juga dengan langit, saling berhimpitan, khususnya penelitian astronomi modern yang telah yang telah membuktikan dengan sejumlah data matematis bahwa alam kita ini bergaris kurva. Satu catatan ini sebagai bukti penetapan bahwa tujuh langit dan tujuh bumi saling berhimpitan mengelilingi satu pusat yakni bumi itu sendiri, tepatnya di Ka’bah, dan Ka’bah merupakan poros atau titik tengah langit dan bumi.[19]
c)    Obat penawar dan penyakit di sayap lalat
    “ Jika seekor lalat jatuh dalam minuman salah seorang di antara kamu maka hendak lah ia membenamkannya (sekalian untuk)kemudian mengangkatnya, Sesungguhnya didalam salah satu sayapnya terdapat penyakit dan disayap yang lain terdapat obat penawar”.[20]
     Hadis-hadis ini juga diriwayatkan oleh para imam hadis, seperti Abu Dawud, Al-Baihaqi, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzainah dan lain lain.
     Maksud hadis ini pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat obat penawar untuk penyakit tersebut. Dan ketika lalt terjatuh dalam makanan atau minuman, dia akan otomatis mengepakkan sayapnya yang mengandung racun sebagai bentuk pertahanan diri.
     Sebagian orang keberatan terhadap kemungkinan dicelupkannya lalat ke dalam makanan atau minuman yang kemasukan lalat, untuk kemudian memakan kembali maknan tersebut. Namun, kebrratan mereka kurang tepat. Mereka lupa bahwa hal tersebut dilakukan jika dalam keadaan yang sangat darurat, misalnya ketika seseorang berada di tengah padang pasir dan tidak meiliki apapun kecuali segelas air atau segelas minuman yang telah kemasukan lalat itu, sedang dia khawatir akan meninggal dunia jika tidak mengonsumsi minuman ini, sehingga dia harus menolak dua bahaya sekaligus: bahaya kematian karena lapar dan dahaga atau bahaya kematian karena kuman, bakteri dan virus yang dibawa lalat dalam minumannya.
     Hadis ini mengisyaratkan untuk mencelupkan lalat dalam minuman hingga obat yang ada pada salah satu sayap lalat tersebut dapat menyingkirkan penyakit yang dibawa sayap yang lain. Orang yang masih keberatan dan tidak dapat diterima kemungkinan meminum minuman yang sudah terceburi lalat, sedangkang dia sendiri belum pernah mengalami keadaan draurat yang memaksanya melakukan hal ini, maka dia tidak bisa meragukan ke-shahihan hadis  ini begitu saja, hanya karena dia tidak dapat meminum minuman yang telah terceburi lalat yang identik dengan kotoran dan pembawa penyakit. Sebab hadis ini memiliki sanad yang shahih sebagaimana yang ditetapkan Imam Al-Bukhori. Selain itu hadis ini juga shahih secara matan. Pertama, karena dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, Kedua, karena telah teruji ke-shahih-annya dari dua sisi yakni secara ilmiah dan praktis. [21]
d)   Siklus tahun
 Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
     Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana kondisinya sejak Allah menciptakan langit dan bumi, Satu tahun terdiri dari duabelas bulan, Ada empat bulan suci didalamnya, Tiga (diantaranya) berturut-turut yakni Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram, dan Rajab Mudhar (yang jatuh) antara Jumada dan Sya’ban”.[22]
     Penegasan Rasulullah bahwa satu tahun terdiri dari dua belas bulan adalah pandangan sains yang penuh kemu’jizatan. Sebab tahun bintang apapun dalam tata surya ini adalah kurun waktu yang dilalui selama perputaran penuhnya mengelilingi matahari. Lama kurun waktu ini ditentukan oleh lama rata-rata radius orbit, yaitu rata-rata kejauhan planet dari matahari. Kecepatan pergerakan benda langit dan kedua fakta ini sudah eksis sejak awal mula penciptaan langit dan bumi. Sehingga perubahan apapun yang terjadi di langit dan bumi akan menimbulkan guncangan besar dalam sistem tata surya yang sudah sejak bertriliun-triliun tahun berjalan ajeg dengan satu sistem sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.
     Fakta telah menunjukkan bahwa waktu bukanlah benda materi yang berputar akan tetapi waktu adalah masa yang berlalu. Perputaran waktu merupakan isyarat akan adanya perputaran alam semesta dan perputaran semua benda angkasa beserta satelit-satelit di dalamnya.[23]
e)    Manfaat siwak
Nabi bersabda:
     Seandainya tidak terlalu memberakan umatku, niscaya sudah aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat”.
     Salah satu petunjuk nabi dalam konteks ini adalah imbauan untuk menggunakan siwak setiap kali hendak salat (minial lima kali dalam sehari). Siwak adalah batang semak (pohon kecil-kecil) yang biasa dikenal dengan istilahh “ara”. Namun, siwak juga dapat dibuat dari batang kayu dari pohin-pohon kecil seperti kayu zaitun liar atau pohon sambur. Siwak yang paling baik kualitasnya adalah siwak yang dibuat dari akar-akar pohon ara, sedangkan siwak yang dibuat dari cabang-cabang pohon ara kualitasnya lebih rendah.
     Penelitian laboratorium atas batang pohon ara (siwak) membuktikan bahwa ia mengandung sejumlah komposisi kimia yang dapat menjaga gigi dari gangguan kerapuhan dan kebusukan, dan merawat gusi dari peradangan, misalnya asam acrid. Juga komposisi kimia lainnya seperti minyak lada dan gula anggur yang mempunyai aroma menyengat dan rasa menggigit, Dua komposisi kimia ini memiliki kemampuan luar biasa untuk membinasakan kuman-kuman mulut.[24]



























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.    Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,, penutup para Nabi dan Rasul dengan perantara Malaikat Jibril, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri denagn surat An-Nash, serta mempelajarinya meripakan suatu ibadah. Sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, perbuatan maupun takrir Nabi. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia.
2.    Hubungan antara Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ilmu pengetahuan adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, saling menguatkan antara keduanya, As-Sunnah merupakan penjelas dari Al-Qur’an yang banyak menerangkan tentang ilmu pengetahuan.
3.    Al-Qur’an tidak hanya berisikan anjuran-anjuran dan tata cara beribadah saja akan tetapi lebih dari itu, di dalamnya terdapat banyak khasanah keilmuan yang luar biasa, Seperti Al-Qur’an, Sunnah merupakan sumber ilmu pengetahuan keagamaan, kemanusiaan, dan sosial yang dibutuhkan umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka.
B.     SARAN
     Setelah mengetahui makna dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ilmu pengetahuan serta fungsi dan keterkaitan satu sama lain, penulis mengharapkan bahwa hendaknya pengembangan  ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual tanpa meninggalkan As-Sunnah yang merupakan penjelas dari ayat-ayat tersebut dan didukung dengan penelitian dan pengukuran.
    


No comments:

Post a Comment