Agama islam mulai masuk di pulau jawa sebelum abad ke-13
M,dan pertama kali menerima pengaruh islam dari malaka.dari jawa ini kemudian
islam tersebar,pusat-pusat tertua penyebaran agama islam saat itu adalah daerah
gresik dan surabaya.kesimpulan ini didasarkan pada bukti bahwa di gresik
terdapat banyak makam tua.diantaranya makam yang bernama fatimah binti maimun
yang meninggal pada 7 rajab 475 H (1082).
Dan banyak pendapat bahwa masuknya islam di Jawa
sampai sekarang masih menimbulkan hasil telaah yang sangat beragam. Ada yang mengatakan
Islam masuk ke Jawa sebagaimana Islam datang ke Sumatra yang diyakini abad
pertama Hijriyah atau abad ke-7 M.
A. Masyarakat Jawa Sebelum Islam
Datang
1.
Jawa
Pra Hindu-Budha
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum
datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang
asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa
prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan
dinamisme.Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan
numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap
keramat.
Di
samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya.
Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya
dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.
2.
Jawa
Masa Hindu-Budha
Pengaruh Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa bersifat
ekspansif, sedangkan budaya Jawa yang menerima pengaruh dan menyerap
unsur-unsur Hinduisme-Budhisme setelah melalui proses akulturasi tidak saja
berpengaruh pada sistem budaya, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem agama.Sejak awal, budaya Jawa
yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama
apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik, maka sangatlah wajar jika
kebudayaan Jawa bersifat sinkretis (bersifat momot atau serba memuat).Ciri lain
dari budaya Jawa pada saat itu adalah sangat bersifat teokratis. Pengkultusan
terhadap raja-raja sebagai titisan dewa adalah salah satu buktinya. Di dalam
perekonomian dan industri salah satu aktivitas masyarakat adalah bertani dan
berdagang dalam proses integrasi bangsa. Dari aspek lain karya seni dan satra
juga telah berkembang pesat antara lain seni musik, seni tari, wayang, lawak,
dan tari topeng. Semua itu sebagian besar terdokumentasikan pada
pahatan-pahatan relief dan candi-candi.
B.Asal-Muasal Islam Jawa
Sejarah awal Islam Jawa
masih sangat kabur.Konsensus kesarjanaan mengakui adanya problem yang signifikan
berkaitan dengan asal-muasal dan ikhwal persebaran Islam di Asia Tenggara, yang
mungkin tidak akan pernah dituntaskan secara utuh, karena kurangnya
sumber-sumber yang bias dipercaya, yang mencatat periode kontak dan konversi
tersebut (Drewes 1968). Di akui memang sudah ada kalangan muslim di jawa pada
akhir abad ke-14 dan di keratin majapahit (Robson 1981). Proses transisi dan
konversi penduduk jawa tengah ke Islam bersifat tidak merata dan terus
berlangsung hingga kini. Data tradisional mengenai jatuhnya najapahit, kerajaan
hindu-jawa bersar terakhir adalah tahun 1478 (Ricklefs 1974) (80)
C.Bukti-bukti
islam masuk dalam bentuk artefak
Dalam bentuk artefak didapatkan bukti-bukti dalam bermacam bentuk
sebagai berikut:
1.
Makam
Agama Islam di Jawa telah ada sejak zaman Majapahit
dengan bukti sejarah yang paling faktual adalah ditemukannya Batu Nisan kubur
Fatimah binti Maemun di Leren Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M). Sartono
Kartodijo mengatakan mungkin ini merupakan bukti yang kongkret bagi kedatangan
islam di Jawa.[4] Pada nisan makam itu tercantum prasasti berhuruf dan
berbahasa Arab, yang menyatakan bahwa makam itu adalah kubur Fatimah binti
Maimun bin Hibatallah yang meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H bertepatan dengan
tanggal 1 Desember 1082 M, yang berarti masih dalam zaman Kediri
Sementara
itu, Ricklefs dalam uraiannya mengatakan bahwa serangkaian batu nisan yang
sangat penting ditemukan di kuburan-kuburan di Jawa
Timur, yaitu di Trowulan dan Troloyo didekat situs istana Majapahit yang
bersifat Hindu-Budha. Batu-batu Jawa Timur tersebut memberi kesan bahwa
beberapa orang anggota kaum elite Jawa memeluk agama Islam pada masa kerajaan
Majapahit yang beragama Hindu-Budha sedang berada di puncak kejayaannya.
2.
Masjid
Sumber sejarah dalam bentuk arkeologi yang berupa bangunan masjid
juga ditemukan di Jawa. Berdirinya masjid disuatu wilayah akan memberikan
petunjuk adanya komunitas muslim di wilayah tersebut. Untuk menyebut
masjid-masjid di Jawa yang awal memang membutuhkan penelitian tersendiri. Namun
jika kita lihat dari corak arsitekturnya, masjid-masjid di Jawa pada garis
besarnya beratap tumpang, berdenah persegi, berukuran relatif besar, terdiri
atas ruang utama-pawestren-serambi, mempunyai ruang mihrab, tempat mengambil
air wudlu, kolam didepan serambi, dan mempunyai pagar keliling. Lebih jauh G.F.
Pijper menjelaskan bahwa ciri khas masjid di jawa ialah dibangun di sebelah
barat alun-alun, sebuah lapangan persegi yang ditanami rumput, dan terdapat
hampir di semua kota kabupaten atau kecamatan.
3. Tata kota
Dalam masa Islam, di Jawa muncul kota-kota baru di wilayah pantai
dan pedalaman seperti Demak, Cirebon, Banten, Pajang, dan Kota Gede.Kota-kota
itu ada yang masih hidup terus, ada pula yang sudah mati hampir tidak berbekas
lagi. Akan tetapi dari data arkeologi yang terkumpul dapat diketahui komponen
utama kota-kota tersebut yaitu: kraton, alun-alun, masjid agung, pasar,
pemukiman penduduk, pemakaman serta sarana pertahanan keamanan.
Hingga
kini belum ada kesepakatan di antara para ahli mengenai awal masuknya Islam ke
Jawa. Ada sejumlah teori yang dikemukakan, diantaranya:
a. Islam sudah masuk ke
Wilayah Jawa semenjak abad ke -9 atas dasar inskripsi di Leren, Gresik yang
menjelaskan adanya seseorang yang bernama Fatimah binti Maimun, yang wafat pada
tahun 1082
b. Islam sudah berada di Jawa semenjak abad ke-14 berdasarkan batu
nisan yang terdapat di Trowulan. Batu nisan tersebut menunjukan angka 1368 M
yang memberi indikasi bahwa pada tahun itu sudah ada orang Jawa dari kalangan
kerajaan yang memeluk Islam atas perlindungan kalangan kerajaan.
c. Islam sudah berada di Jawa pada abad ke-15 berdasarkan batu
nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada 1419 M. Beberapa
pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan Persia yang
bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah.
d. Islam masuk ke Jawa berasal dari Arab secara langsung. Pendapat
ini didasarkan atas kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia berasal dari
Mazhab Syafi’i, suatu mazhab yang pada waktu itu sangat dominan di wilayah
Semenanjung Arabia bagian selatan.
e. Islam masuk ke wilayah Jawa melalui jalur India. Pandangan ini
antara lain dikemukakan oleh Snouck Hurgronje ketika memberikan kuliah
perpisahan di Universitas Leiden. Ia mengatakan bahwa Sumatera dan Jawa
mengenal Islam lewat kontak yang terjadi dengan pedagang-pedagang dari India.
f. Masuknya islam ke Jawa melalui Kamboja. Pendapat ini didasarkan
pada
adanya
hubungan antara kepulauan Nusantara dengan kerajaan Campa. Pada tahun 1471 M,
kerajaan tersebut mengalami kekalahan dari orang-orang Vietnam Utara sehingga
keluarga kerajaan mengungsi ke wilayah Malaka.
g. Islam masuk ke wilayah Jawa berasal dari Cina. Pandangan ini
didasarkan cerita dari Jawa Timur yang berasal dari Serat Kandha yang
menyatakan bahwa Raden Patah adalah anak seorang wanita Cina.
h. Teori lain yang bersifat merangkum teori-teori tersebut
menyatakan bahwa asal-usul Islam adalah dari para guru Sufi yang dalam
perjalanan mereka ke wilayah Nusantara dapat melalui lautan Hindia atau melalui
jalur perdagangan sutra. Dikawasan Timur Tengah, mereka menempuh perjalanan
sungai ke Kanton, dan dari sinilah mereka menempuh perjalanan selanjutnya ke
wilayah Campa, Malaysia, dan Sumatera.
D. Teori-teori penyebaran Islam di Jawa
Penyebaran
Islam di Jawa melalui saluran-saluran sebagai berikut ini:
1. Melalui perdagangan (Arab, Persia dan India)
Melalaui jalan perdagangan ini menjadikan petinggi Majapahit,
pemilik kapal, dan banyak bupati masuk islam. Namun karena faktor hubungan
ekonomi dengan pedagang muslim dan perkembangan selanjutnya mereka mengambil
perdagangan dan kekuasaan di tempat tinggalnya.
2.
Saluran
Tasawuf
Tasawuf yang diajarkan memiliki persamaan dengan aliran pikiran
penduduk pribumi yang sebelumnya menganut agama Hindu seperti yang dilakukan
Sunan Bonang.
3.
Saluran
Pendidikan
Ini dilakukan baik melalui pesantren maupun pondok yang
diselenggarakan guru-guru agama, kyai-kyai dan ulama-ulama.
4.
Saluran
politik
Di Jawa demi menambah orang yang memeluk agama Islam, banyak
kerajaan Islam yang memerangi kerajaan Islam seperti yang dilakukan kerajaan
Demak.
5.
Saluran
kesenian
Saluran yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.Sebagian
diambil dari Maha Barata dan Ramayana karena wayang sangat kuat pengaruhnya
dalam kehidupan orang jawa.Karena di dalamnya terdapat unsur hiburan dan
tuntunan, dan ini juga diperlihatkan orang Jawa meniati untuk menyediakan
tempat khusus untuk pagelaran Jawa.
6.
Saluran
pernikahan
Jika pedagang luar cukup lama tinggal di suatu tempat, sering
terjalin hubungan perkawinan antara orang asing yang dihormati serta berguna
itu, dengan puteri atau saudara perempuan setempat.Hukum perkawinan Islam
memungkinkan untuk itu.
E. Peran walisongo dalam penyebaran Islam di Jawa
Walisongo adalah tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa abad 15-16
yang telah berhasil mengkombinasikan aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam
memperkenalkan Islam pada masyarakat. Mereka berturut-turut adalah Maulana
Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan
Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunungjati. Para santri Jawa
berpendapat bahwa Walisongo adalah pemimpin umat yang sangat saleh dan dengan
pencerahan spiritual religius mereka, bumi Jawa yang tadinya tidak mengenal
agama monotheis menjadi bersinar terang.
Walisongo
sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa, diantaranya sebagai
berikut:
1.
Syek
Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Masing-masing tokoh walisongo memiliki peran yang unik dalam
penyebaran islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri
sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit.Maulana Malik Ibrahim memiliki
beberapa nama yaitu: 1. Maulana Magribi, 2. Syekh Magribi, 3. Sunan Gresik.
Beliau termasuk salah satu dari walisongo yang menyiarkan agama Islam di
Gresik, Jawa Timur.Sunan Gresik berasal dari daerah Magribi, Afrika Utara.
Beliau datang ke indonesia pada zaman Majapahit pada 1379 M untuk syiar Islam
bersama dengan Raja Cermin dan putra-putrinya.
Di
kalangan walisongo, Maulana Malik Ibrahim disebut-sebut sebagai wali paling
populer dan senior, alias wali pertama. Malik mulai meluncurkan dakwahnya
dengan gaya menjauhi konfrontasi. Sebagian besar masyarakat setempat ketika itu
menganut Hindu, “agama resmi” Kerajaan Majapahit. Sunan melakukan sesuatu yang
sangat sederhana:
a. Membuka warung
Ia
menjual rupa-rupa makanan dengan harga murah. Dalam waktu singkat , warungnya
ramai dikunjungi orang.
b. Membuka praktek sebagai tabib
Tahap
selanjutnya adalah membuka praktek sebagai tabib. Dengan do’a-do’a yang diambil
dari Al-Qur’an, ia terbukti mampu menyembuhkanpenyakit.
Berangsur-angsur pengikutnya terus bertambah, setelah jumlah
mereka makin banyak, Sunan Gresik Mendirikan Masjid
Maulana Malik Ibrahim menetap di Gresik sejak 1404 M. Di Gresik
Mulana Malik Ibrahim merasa perlu membuat tempat menimba ilmu bersama. Moel
belajar seperti ini yang kemudian dikenal dengan nama pesantren. Dalam
mengajarkan ilmunya, Malik punya kebiasaan khas yaitu meletakan Al Qur’an atau
kitab Hadits diatas bantal. Karena itu kemudian ia dijuluki sebagai “Kakek
Bantal”. Syekh Maulana Malik Ibrahim seorang walisongo yang dianggap sebagai
ayah dari walisongo.Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.
2.
Raden
Rahmat (Sunan Ampel)
Raden Rahmat Ali Rahmatullah adalah cucu raja cempa,
ayahnya bernama Ibrahim Asmaira Kandi yang kawin dengan Puteri Raja Cempa yang
bernama Dewi Candra Wulan.
Raden
Rahmat ke tanah Jawa langsung ke Majapahit karena bibinya Dewi Dwar Wati
diperistri Raja Brawijaya, dan isteri yang paling disukainya.Raden Rahmat
berhenti di Tuban, di tempat itu beliau berkenalan dengan dua tokoh masyarakat
yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, yang kemudian bersama kedua orang
bersama keluarganya masuk Islam.Dengan adanya dua orang ini Raden Rahmat
semakin mudah mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitarnya.Beliau tidak
langsung melarang mereka yang masih menganut adat istiadat lama, tapi sedikit
demi sedikit, tentang ajaran ketauhidan.Beliau menetap di Ampel Denta dan
kemudian disebut Sunan Ampel.Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat
putera bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau berguru kepadanya.Dan
beliau wafat pada tahun 1478 M. Dimakamkan di sebelah Masjid Ampel.
3.
Syek
Maulana Ishak (Sunan Giri)
Di awal abad ke-14 kerajaan Blambangan diperintah oleh
Prabu Menak Semboyo, salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari Kerajaan
Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agama Hindu dan sebagian memeluk Budha.
Pada
waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda wabah penyakit, banyak yang
meninggal.Banyak korban berjatuhan dan puteri Prabu juga terserang penyakit
beberapa bulan. Banyak tabib dan dudun mengobati tapi sang puteri belum sembuh
juga. Lalu Prabu Menak mengutus Patih Bajul Senggoro ke Gunung Gresik.Patih
Bajul Senggoro dapat bertemu dengan syekh Maulana Ishak yang sedang bertafakur
di sebuah goa.Setelah terjadi negoisasi bahwa raja dan rakyat mau diajak masuk
Islam maka Syekh Maulana Ishak bersedia datang ke Blambangan.Memang beliau
pandai dalam pengobatan, Puteri Dewi Sekardadu sembuh setelah diobati dan wabah
penyakit lenyap dari wilayah Blambangan.Sesuai janji Sunan Giri dikawinkan
dengan Puteri Dewi Sekardadu dan diberi kekuasaan sebagai adipati
Blambangan.Setelah banyak sekali orang yang berobat dan belajar agama
Islam.Kemudian beliau pindah ke Singapura dan wafat disana.
4.
Sunan
Bonang
Nama Aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putera Sunan
Ampel. Sunan Bonang terkenal sebagai Ahli ilmu kalam dan tauhid.
Sekembalinya
dari Persia untuk berguru ke Syeh Maulana Ishak ke tanah jawa, beliau berdakwah
didaerah Tuban.Caranya berdakwah cukup unik dan bijaksana, beliau menciptakan
gending dan tembang yang disukai rakyat. Dan beliau ahli membunyikan gending
yang disebut bonang, sehingga rakyat tuban dapat diambil hatinya untuk masuk
masjid
Beliau
membunyikan bonang rakyat yang mendengar seperti terhipnotis terus melangkah
kemasjid karena ingin mendengar langsung dari dekat. Dengan cara ini sedikit
demi sedikit dapat merebut simpati rakyat, lalu baru menanamkan pengertian
sebenarnya tentang islam.
5.
Sunan
Drajad
Nama aslinya adalah Raden Qasim, beliau adalah pitera sunan ampel
dari Dewi Candra wati.Beliau berdakwah di daerah Derajat, sehingga dikenal
dengan Sunan Drajat. Cara menyebarkan agama Islam dilakukan dengan cara menabuh
seperangkat alat gamelan,gending dan tembang macopat setelah itu baru deberi
ceramahIslam. Dan beliau mendirikan pesantren untuk menyiarkan Islam.
Beliau
wafat pada tahun 1462 M dan dimakamkan didesa Drajad kecamatan Paciran
Lamongan.
6.
Sunan
Kalijaga
Nama Aslinya adalah Raden Sahid, beliau Putera Raden Sahur Putera
Temanggung Wilatikta Adipati Tuban.
Beliaupun
mengembara dan bertemu dengan orang berjubah putih dia adalah Sunan Bonang.Lalu
Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruhnya menunggui tongkatnya
didepan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut.Maka Raden
Sahid disebut dengan Sunan Kali Jaga.
Beliau
dikenal sebagai seorang yang dapat bergaul dengan segala lapisan
masyarakat.Beliau adalah mubalig keliling.Dengan memanfaatkan kesenian rakyat
yang ada beliau dapat mengumpulkan rakyat untuk kemudian diajak mengenal
Islam.Beliau adalah penabuh gamelan, dalang, menciptakan tembang yang
ahli.Kesemuanya itu untuk kepentingan dakwah dan beliau tidak secara langsung
menentang adat istiadat rakyat, agar mereka tidak lari dari Islam dan enggan
mepelajari Islam.
7.
Sunan
Kudus
Menurut salah satu sumber beliau adalah putera Raden Utsman yang
bergelar Sunan Ngudang dari Jipang Panolan.Nama aslinya Raden Ja’far Shadiq.
Cara-cara
berdakwah Sunan kudus adlah sebagai berikut:
a. Strategi pendekatan kepada massa dengan jalan :
Ø
Membiarkan adat-istiadat
lama yang sulit diubah
Ø
Menghindarkan konfrontasi
secara langsung dalam menyiarkan agama Islam.
Ø
Tut Wuri Handayani
Ø
Bagian adat-istiadat yang
tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah
b. Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi
karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat.
c. Merangkul masyarakat Budha
Setelah
Masjid, terus Sunan Kudus mendirikan padasan tempat wudhu dengan pancuran yang
berjumlah d "elapan. Diats pancuran diberi arca kepala kebo Gumarang
diatasnya hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha” Jalan berkelipatan delapan
atau asta sunghika marga”
d. Selamatan mitoni
Biasanya
sebelum acara selamatan diadakan membaca sejarah Nabi.
8.
Sunan
Muria
Beliauadlah putera dari Sunan Kali Jaga dengan Dewi Saroh. Nama
aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu menggunakan
cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai airnya keruh. Itulah cara yang
digunakan disekitar Gunung Muria dalam menyebarkan agama Islam. Sasaran dakwah
beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat jelata.Beliau adalah
satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebgai alat
dakwah dan beliau pula yang meciptakan tembang Sinom.Beliau banyak mengisi
tradisi Jawa dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, nyatus dino
dan lain sebagainya.
9.
Sunan
Gunung Jati
Orang sepakat bahwa penyebar agama Islam di Jawa Barat terutama
Cirebon adalah Sunan Gunung Jati yang aslinya adalah Syarif Hidayatulloh.
Di
Makkah, Syarifan Mudain melahirkan anak pertamanya yaitu anak laki-laki yang
kemudian diberi nama Syarif Hidayatullah.
Setelah
selesai menuntut ilmu pada tahun 1470 M dia berangkat ke tanah Jawa untuk
mengamalkan ilmunya.Disana beliau bersama ibunya disambut gembira oleh Pangeran
Cakra Buana.Syarifan Muadain minta agar di izinkan tinggal di Pasumbang Gunung
Jati dan Jalan disana mereka membangun pesantren untuk meneruskan usahanya
syekh Datuk Latif gurunya pangeran Cakra Buana.Oleh karena itu Syarif
Hidaytullah dipanggil Sunan Gunung Jati. Lalu ia dinikahkan dengan puteri Cakra
Buana Nyi Pakung Wati kemudian ia diangkat menjadi pengeran Cakra Buana pada
tahun 1479 M, dengan diangkatnya beliau sebagai pangeran dakwah Islam dilakukan
melalui diplomasi dengan kerajaan lain.
F.Pekembangan dakwah islam di jawa
paska walisongo
Setelah para Wali menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa,
kepercayaan animisme dan dinamisme serta budaya Hindu-Budha sedikit demi
sedikit berubah atau termasuki oleh nilai-nilai Islam.Hal ini membuat
masyarakat kagum atas nilai-nilai Islam yang begitu besar manfa’atnya dalam
kehidupan sehari-hari sehingga membuat mereka langsung bisa menerima ajaran
Islam.Dari sini derajat orang-orang miskin mulai terangkat yang pada awalnya
tertindas oleh para penguasa kerajaan.Islam sangat berkembang luas sampai ke
pelosok desa setelah para Wali berhasil mendidik murid-muridnya.Salah satu
generasi yang meneruskan perjuangan para Wali sampai Islam tersebar ke pelosok
desa adalah Jaka Tingkir.Islam di Jawa yang paling menonjol setelah perjuangan
para Wali songo adalah perpaduan adat Jawa dengan nilai-nilai Islam, salah satu
diantaranya adalah tradisi Wayang Kulit.
G. Warisan Spiritualitas Islam di Jawa
Keberadaan Islam ditanah Jawa
khususnya dan di Nusantara umumnya memang tidak dapat dilepaskan sama sekali
dari warisan sejarah dan budaya masa lalu. Budaya masa lalu hamper-hampir
mustahil untuk dapat dilupakan begitu saja oleh generasi yang hidup saat
sekarang.Warisan itu telah teranyam, terpadu, dan terkubur dalam lipatan alam
bawah sadar kolektif manusia pendukung budaya tersebut.Corak spiritualitas dan
moralitas Islam ditanah jawa pada era sekarang mempunyai “Akar” masa lampau
yang amat dalam dan amat sulit dipisahkan dan dilupakan begitu saja. (188)
Warisan
spiritualitas Islam pada abad ke-15 dan ke-16 ditanah jawa tampak masih dapat
dibaca dalam lipatan literature- literature keagamaan islam yang amat kaya
dalam berbagai perpustakaan di dalam maupun di luar negeri. Hanya lewat kajian
cara berpikir orang yang hidup saat itu. Orang merekonstruksi corak
spirituslitas yang diidolakan dan dipraktikan orang dalam sehari-hari saat itu,
bukankah literatur dan karya sastra pada umumnya, merupakan potret sejarah dan
sekaligus cermin berpikir yang telah mengendap berpuluh atau mungkin berates tahun
sebelumnya. (190)

No comments:
Post a Comment