Thursday, 14 April 2016

spiritual islam jawa



Agama islam mulai masuk di pulau jawa sebelum abad ke-13 M,dan pertama kali menerima pengaruh islam dari malaka.dari jawa ini kemudian islam tersebar,pusat-pusat tertua penyebaran agama islam saat itu adalah daerah gresik dan surabaya.kesimpulan ini didasarkan pada bukti bahwa di gresik terdapat banyak makam tua.diantaranya makam yang bernama fatimah binti maimun yang meninggal pada 7 rajab 475 H (1082).
Dan banyak pendapat bahwa masuknya islam di Jawa sampai sekarang masih menimbulkan hasil telaah yang sangat beragam. Ada yang mengatakan Islam masuk ke Jawa sebagaimana Islam datang ke Sumatra yang diyakini abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 M.


A. Masyarakat Jawa Sebelum Islam Datang
1.      Jawa Pra Hindu-Budha
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme.Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat.
Di samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.

2.      Jawa Masa Hindu-Budha
Pengaruh Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa bersifat ekspansif, sedangkan budaya Jawa yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hinduisme-Budhisme setelah melalui proses akulturasi tidak saja berpengaruh pada sistem budaya, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem agama.Sejak awal, budaya Jawa yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik, maka sangatlah wajar jika kebudayaan Jawa bersifat sinkretis (bersifat momot atau serba memuat).Ciri lain dari budaya Jawa pada saat itu adalah sangat bersifat teokratis. Pengkultusan terhadap raja-raja sebagai titisan dewa adalah salah satu buktinya. Di dalam perekonomian dan industri salah satu aktivitas masyarakat adalah bertani dan berdagang dalam proses integrasi bangsa. Dari aspek lain karya seni dan satra juga telah berkembang pesat antara lain seni musik, seni tari, wayang, lawak, dan tari topeng. Semua itu sebagian besar terdokumentasikan pada pahatan-pahatan relief dan candi-candi.

B.Asal-Muasal Islam Jawa
Sejarah awal Islam Jawa masih sangat kabur.Konsensus kesarjanaan mengakui adanya problem yang signifikan berkaitan dengan asal-muasal dan ikhwal persebaran Islam di Asia Tenggara, yang mungkin tidak akan pernah dituntaskan secara utuh, karena kurangnya sumber-sumber yang bias dipercaya, yang mencatat periode kontak dan konversi tersebut (Drewes 1968). Di akui memang sudah ada kalangan muslim di jawa pada akhir abad ke-14 dan di keratin majapahit (Robson 1981). Proses transisi dan konversi penduduk jawa tengah ke Islam bersifat tidak merata dan terus berlangsung hingga kini. Data tradisional mengenai jatuhnya najapahit, kerajaan hindu-jawa bersar terakhir adalah tahun 1478 (Ricklefs 1974) (80)

C.Bukti-bukti islam masuk dalam bentuk artefak
Dalam bentuk artefak didapatkan bukti-bukti dalam bermacam bentuk sebagai berikut:
1.      Makam
Agama Islam di Jawa telah ada sejak zaman Majapahit dengan bukti sejarah yang paling faktual adalah ditemukannya Batu Nisan kubur Fatimah binti Maemun di Leren Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M). Sartono Kartodijo mengatakan mungkin ini merupakan bukti yang kongkret bagi kedatangan islam di Jawa.[4] Pada nisan makam itu tercantum prasasti berhuruf dan berbahasa Arab, yang menyatakan bahwa makam itu adalah kubur Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H bertepatan dengan tanggal 1 Desember 1082 M, yang berarti masih dalam zaman Kediri
Sementara itu, Ricklefs dalam uraiannya mengatakan bahwa serangkaian batu nisan yang sangat penting ditemukan di kuburan-kuburan di Jawa Timur, yaitu di Trowulan dan Troloyo didekat situs istana Majapahit yang bersifat Hindu-Budha. Batu-batu Jawa Timur tersebut memberi kesan bahwa beberapa orang anggota kaum elite Jawa memeluk agama Islam pada masa kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Budha sedang berada di puncak kejayaannya.

2.      Masjid
Sumber sejarah dalam bentuk arkeologi yang berupa bangunan masjid juga ditemukan di Jawa. Berdirinya masjid disuatu wilayah akan memberikan petunjuk adanya komunitas muslim di wilayah tersebut. Untuk menyebut masjid-masjid di Jawa yang awal memang membutuhkan penelitian tersendiri. Namun jika kita lihat dari corak arsitekturnya, masjid-masjid di Jawa pada garis besarnya beratap tumpang, berdenah persegi, berukuran relatif besar, terdiri atas ruang utama-pawestren-serambi, mempunyai ruang mihrab, tempat mengambil air wudlu, kolam didepan serambi, dan mempunyai pagar keliling. Lebih jauh G.F. Pijper menjelaskan bahwa ciri khas masjid di jawa ialah dibangun di sebelah barat alun-alun, sebuah lapangan persegi yang ditanami rumput, dan terdapat hampir di semua kota kabupaten atau kecamatan.

3.       Tata kota
Dalam masa Islam, di Jawa muncul kota-kota baru di wilayah pantai dan pedalaman seperti Demak, Cirebon, Banten, Pajang, dan Kota Gede.Kota-kota itu ada yang masih hidup terus, ada pula yang sudah mati hampir tidak berbekas lagi. Akan tetapi dari data arkeologi yang terkumpul dapat diketahui komponen utama kota-kota tersebut yaitu: kraton, alun-alun, masjid agung, pasar, pemukiman penduduk, pemakaman serta sarana pertahanan keamanan.
Hingga kini belum ada kesepakatan di antara para ahli mengenai awal masuknya Islam ke Jawa. Ada sejumlah teori yang dikemukakan, diantaranya:
a.  Islam sudah masuk ke Wilayah Jawa semenjak abad ke -9 atas dasar inskripsi di Leren, Gresik yang menjelaskan adanya seseorang yang bernama Fatimah binti Maimun, yang wafat pada tahun 1082
b. Islam sudah berada di Jawa semenjak abad ke-14 berdasarkan batu nisan yang terdapat di Trowulan. Batu nisan tersebut menunjukan angka 1368 M yang memberi indikasi bahwa pada tahun itu sudah ada orang Jawa dari kalangan kerajaan yang memeluk Islam atas perlindungan kalangan kerajaan.
c. Islam sudah berada di Jawa pada abad ke-15 berdasarkan batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada 1419 M. Beberapa pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan Persia yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah.
d. Islam masuk ke Jawa berasal dari Arab secara langsung. Pendapat ini didasarkan atas kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia berasal dari Mazhab Syafi’i, suatu mazhab yang pada waktu itu sangat dominan di wilayah Semenanjung Arabia bagian selatan.
e. Islam masuk ke wilayah Jawa melalui jalur India. Pandangan ini antara lain dikemukakan oleh Snouck Hurgronje ketika memberikan kuliah perpisahan di Universitas Leiden. Ia mengatakan bahwa Sumatera dan Jawa mengenal Islam lewat kontak yang terjadi dengan pedagang-pedagang dari India.
f. Masuknya islam ke Jawa melalui Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada
adanya hubungan antara kepulauan Nusantara dengan kerajaan Campa. Pada tahun 1471 M, kerajaan tersebut mengalami kekalahan dari orang-orang Vietnam Utara sehingga keluarga kerajaan mengungsi ke wilayah Malaka.
g. Islam masuk ke wilayah Jawa berasal dari Cina. Pandangan ini didasarkan cerita dari Jawa Timur yang berasal dari Serat Kandha yang menyatakan bahwa Raden Patah adalah anak seorang wanita Cina.
h. Teori lain yang bersifat merangkum teori-teori tersebut menyatakan bahwa asal-usul Islam adalah dari para guru Sufi yang dalam perjalanan mereka ke wilayah Nusantara dapat melalui lautan Hindia atau melalui jalur perdagangan sutra. Dikawasan Timur Tengah, mereka menempuh perjalanan sungai ke Kanton, dan dari sinilah mereka menempuh perjalanan selanjutnya ke wilayah Campa, Malaysia, dan Sumatera.
                                                                
D. Teori-teori penyebaran Islam di Jawa
Penyebaran Islam di Jawa melalui saluran-saluran sebagai berikut ini:
1.       Melalui perdagangan (Arab, Persia dan India)
Melalaui jalan perdagangan ini menjadikan petinggi Majapahit, pemilik kapal, dan banyak bupati masuk islam. Namun karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang muslim dan perkembangan selanjutnya mereka mengambil perdagangan dan kekuasaan di tempat tinggalnya.
2.      Saluran Tasawuf
Tasawuf yang diajarkan memiliki persamaan dengan aliran pikiran penduduk pribumi yang sebelumnya menganut agama Hindu seperti yang dilakukan Sunan Bonang.
3.      Saluran Pendidikan
Ini dilakukan baik melalui pesantren maupun pondok yang diselenggarakan guru-guru agama, kyai-kyai dan ulama-ulama.
4.      Saluran politik
Di Jawa demi menambah orang yang memeluk agama Islam, banyak kerajaan Islam yang memerangi kerajaan Islam seperti yang dilakukan kerajaan Demak.
5.      Saluran kesenian
Saluran yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.Sebagian diambil dari Maha Barata dan Ramayana karena wayang sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan orang jawa.Karena di dalamnya terdapat unsur hiburan dan tuntunan, dan ini juga diperlihatkan orang Jawa meniati untuk menyediakan tempat khusus untuk pagelaran Jawa.
6.      Saluran pernikahan
Jika pedagang luar cukup lama tinggal di suatu tempat, sering terjalin hubungan perkawinan antara orang asing yang dihormati serta berguna itu, dengan puteri atau saudara perempuan setempat.Hukum perkawinan Islam memungkinkan untuk itu.

E. Peran walisongo dalam penyebaran Islam di Jawa
Walisongo adalah tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa abad 15-16 yang telah berhasil mengkombinasikan aspek-aspek sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan Islam pada masyarakat. Mereka berturut-turut adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunungjati. Para santri Jawa berpendapat bahwa Walisongo adalah pemimpin umat yang sangat saleh dan dengan pencerahan spiritual religius mereka, bumi Jawa yang tadinya tidak mengenal agama monotheis menjadi bersinar terang.
Walisongo sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa, diantaranya sebagai berikut:

1.      Syek Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Masing-masing tokoh walisongo memiliki peran yang unik dalam penyebaran islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit.Maulana Malik Ibrahim memiliki beberapa nama yaitu: 1. Maulana Magribi, 2. Syekh Magribi, 3. Sunan Gresik. Beliau termasuk salah satu dari walisongo yang menyiarkan agama Islam di Gresik, Jawa Timur.Sunan Gresik berasal dari daerah Magribi, Afrika Utara. Beliau datang ke indonesia pada zaman Majapahit pada 1379 M untuk syiar Islam bersama dengan Raja Cermin dan putra-putrinya.
Di kalangan walisongo, Maulana Malik Ibrahim disebut-sebut sebagai wali paling populer dan senior, alias wali pertama. Malik mulai meluncurkan dakwahnya dengan gaya menjauhi konfrontasi. Sebagian besar masyarakat setempat ketika itu menganut Hindu, “agama resmi” Kerajaan Majapahit. Sunan melakukan sesuatu yang sangat sederhana:

a.       Membuka warung
Ia menjual rupa-rupa makanan dengan harga murah. Dalam waktu singkat , warungnya ramai dikunjungi orang.
b.      Membuka praktek sebagai tabib
Tahap selanjutnya adalah membuka praktek sebagai tabib. Dengan do’a-do’a yang diambil dari Al-Qur’an, ia terbukti mampu menyembuhkanpenyakit.
Berangsur-angsur pengikutnya terus bertambah, setelah jumlah mereka makin banyak, Sunan Gresik Mendirikan Masjid
Maulana Malik Ibrahim menetap di Gresik sejak 1404 M. Di Gresik Mulana Malik Ibrahim merasa perlu membuat tempat menimba ilmu bersama. Moel belajar seperti ini yang kemudian dikenal dengan nama pesantren. Dalam mengajarkan ilmunya, Malik punya kebiasaan khas yaitu meletakan Al Qur’an atau kitab Hadits diatas bantal. Karena itu kemudian ia dijuluki sebagai “Kakek Bantal”. Syekh Maulana Malik Ibrahim seorang walisongo yang dianggap sebagai ayah dari walisongo.Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.
2.      Raden Rahmat (Sunan Ampel)
Raden Rahmat Ali Rahmatullah adalah cucu raja cempa, ayahnya bernama Ibrahim Asmaira Kandi yang kawin dengan Puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candra Wulan.
Raden Rahmat ke tanah Jawa langsung ke Majapahit karena bibinya Dewi Dwar Wati diperistri Raja Brawijaya, dan isteri yang paling disukainya.Raden Rahmat berhenti di Tuban, di tempat itu beliau berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, yang kemudian bersama kedua orang bersama keluarganya masuk Islam.Dengan adanya dua orang ini Raden Rahmat semakin mudah mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitarnya.Beliau tidak langsung melarang mereka yang masih menganut adat istiadat lama, tapi sedikit demi sedikit, tentang ajaran ketauhidan.Beliau menetap di Ampel Denta dan kemudian disebut Sunan Ampel.Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat putera bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau berguru kepadanya.Dan beliau wafat pada tahun 1478 M. Dimakamkan di sebelah Masjid Ampel.
3.      Syek Maulana Ishak (Sunan Giri)
Di awal abad ke-14 kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Menak Semboyo, salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agama Hindu dan sebagian memeluk Budha.
Pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda wabah penyakit, banyak yang meninggal.Banyak korban berjatuhan dan puteri Prabu juga terserang penyakit beberapa bulan. Banyak tabib dan dudun mengobati tapi sang puteri belum sembuh juga. Lalu Prabu Menak mengutus Patih Bajul Senggoro ke Gunung Gresik.Patih Bajul Senggoro dapat bertemu dengan syekh Maulana Ishak yang sedang bertafakur di sebuah goa.Setelah terjadi negoisasi bahwa raja dan rakyat mau diajak masuk Islam maka Syekh Maulana Ishak bersedia datang ke Blambangan.Memang beliau pandai dalam pengobatan, Puteri Dewi Sekardadu sembuh setelah diobati dan wabah penyakit lenyap dari wilayah Blambangan.Sesuai janji Sunan Giri dikawinkan dengan Puteri Dewi Sekardadu dan diberi kekuasaan sebagai adipati Blambangan.Setelah banyak sekali orang yang berobat dan belajar agama Islam.Kemudian beliau pindah ke Singapura dan wafat disana.
4.      Sunan Bonang
Nama Aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putera Sunan Ampel. Sunan Bonang terkenal sebagai Ahli ilmu kalam dan tauhid.
Sekembalinya dari Persia untuk berguru ke Syeh Maulana Ishak ke tanah jawa, beliau berdakwah didaerah Tuban.Caranya berdakwah cukup unik dan bijaksana, beliau menciptakan gending dan tembang yang disukai rakyat. Dan beliau ahli membunyikan gending yang disebut bonang, sehingga rakyat tuban dapat diambil hatinya untuk masuk masjid
Beliau membunyikan bonang rakyat yang mendengar seperti terhipnotis terus melangkah kemasjid karena ingin mendengar langsung dari dekat. Dengan cara ini sedikit demi sedikit dapat merebut simpati rakyat, lalu baru menanamkan pengertian sebenarnya tentang islam.
5.      Sunan Drajad
Nama aslinya adalah Raden Qasim, beliau adalah pitera sunan ampel dari Dewi Candra wati.Beliau berdakwah di daerah Derajat, sehingga dikenal dengan Sunan Drajat. Cara menyebarkan agama Islam dilakukan dengan cara menabuh seperangkat alat gamelan,gending dan tembang macopat setelah itu baru deberi ceramahIslam. Dan beliau mendirikan pesantren untuk menyiarkan Islam.
Beliau wafat pada tahun 1462 M dan dimakamkan didesa Drajad kecamatan Paciran Lamongan.
6.      Sunan Kalijaga
Nama Aslinya adalah Raden Sahid, beliau Putera Raden Sahur Putera Temanggung Wilatikta Adipati Tuban.
Beliaupun mengembara dan bertemu dengan orang berjubah putih dia adalah Sunan Bonang.Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruhnya menunggui tongkatnya didepan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut.Maka Raden Sahid disebut dengan Sunan Kali Jaga.
Beliau dikenal sebagai seorang yang dapat bergaul dengan segala lapisan masyarakat.Beliau adalah mubalig keliling.Dengan memanfaatkan kesenian rakyat yang ada beliau dapat mengumpulkan rakyat untuk kemudian diajak mengenal Islam.Beliau adalah penabuh gamelan, dalang, menciptakan tembang yang ahli.Kesemuanya itu untuk kepentingan dakwah dan beliau tidak secara langsung menentang adat istiadat rakyat, agar mereka tidak lari dari Islam dan enggan mepelajari Islam.
7.      Sunan Kudus
Menurut salah satu sumber beliau adalah putera Raden Utsman yang bergelar Sunan Ngudang dari Jipang Panolan.Nama aslinya Raden Ja’far Shadiq.
Cara-cara berdakwah Sunan kudus adlah sebagai berikut:
a. Strategi pendekatan kepada massa dengan jalan :
Ø  Membiarkan adat-istiadat lama yang sulit diubah
Ø  Menghindarkan konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan agama Islam.
Ø  Tut Wuri Handayani
Ø  Bagian adat-istiadat yang tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah
b. Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat.
c. Merangkul masyarakat Budha
Setelah Masjid, terus Sunan Kudus mendirikan padasan tempat wudhu dengan pancuran yang berjumlah d "elapan. Diats pancuran diberi arca kepala kebo Gumarang diatasnya hal ini disesuaikan dengan ajaran Budha” Jalan berkelipatan delapan atau asta sunghika marga”
d. Selamatan mitoni
Biasanya sebelum acara selamatan diadakan membaca sejarah Nabi.
8.      Sunan Muria
Beliauadlah putera dari Sunan Kali Jaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai airnya keruh. Itulah cara yang digunakan disekitar Gunung Muria dalam menyebarkan agama Islam. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat jelata.Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebgai alat dakwah dan beliau pula yang meciptakan tembang Sinom.Beliau banyak mengisi tradisi Jawa dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, nyatus dino dan lain sebagainya.
9.      Sunan Gunung Jati
Orang sepakat bahwa penyebar agama Islam di Jawa Barat terutama Cirebon adalah Sunan Gunung Jati yang aslinya adalah Syarif Hidayatulloh.
Di Makkah, Syarifan Mudain melahirkan anak pertamanya yaitu anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syarif Hidayatullah.
Setelah selesai menuntut ilmu pada tahun 1470 M dia berangkat ke tanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya.Disana beliau bersama ibunya disambut gembira oleh Pangeran Cakra Buana.Syarifan Muadain minta agar di izinkan tinggal di Pasumbang Gunung Jati dan Jalan disana mereka membangun pesantren untuk meneruskan usahanya syekh Datuk Latif gurunya pangeran Cakra Buana.Oleh karena itu Syarif Hidaytullah dipanggil Sunan Gunung Jati. Lalu ia dinikahkan dengan puteri Cakra Buana Nyi Pakung Wati kemudian ia diangkat menjadi pengeran Cakra Buana pada tahun 1479 M, dengan diangkatnya beliau sebagai pangeran dakwah Islam dilakukan melalui diplomasi dengan kerajaan lain.

F.Pekembangan dakwah islam di jawa paska walisongo
Setelah para Wali menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa, kepercayaan animisme dan dinamisme serta budaya Hindu-Budha sedikit demi sedikit berubah atau termasuki oleh nilai-nilai Islam.Hal ini membuat masyarakat kagum atas nilai-nilai Islam yang begitu besar manfa’atnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuat mereka langsung bisa menerima ajaran Islam.Dari sini derajat orang-orang miskin mulai terangkat yang pada awalnya tertindas oleh para penguasa kerajaan.Islam sangat berkembang luas sampai ke pelosok desa setelah para Wali berhasil mendidik murid-muridnya.Salah satu generasi yang meneruskan perjuangan para Wali sampai Islam tersebar ke pelosok desa adalah Jaka Tingkir.Islam di Jawa yang paling menonjol setelah perjuangan para Wali songo adalah perpaduan adat Jawa dengan nilai-nilai Islam, salah satu diantaranya adalah tradisi Wayang Kulit.

G. Warisan Spiritualitas Islam di Jawa
            Keberadaan Islam ditanah Jawa khususnya dan di Nusantara umumnya memang tidak dapat dilepaskan sama sekali dari warisan sejarah dan budaya masa lalu. Budaya masa lalu hamper-hampir mustahil untuk dapat dilupakan begitu saja oleh generasi yang hidup saat sekarang.Warisan itu telah teranyam, terpadu, dan terkubur dalam lipatan alam bawah sadar kolektif manusia pendukung budaya tersebut.Corak spiritualitas dan moralitas Islam ditanah jawa pada era sekarang mempunyai “Akar” masa lampau yang amat dalam dan amat sulit dipisahkan dan dilupakan begitu saja. (188)
Warisan spiritualitas Islam pada abad ke-15 dan ke-16 ditanah jawa tampak masih dapat dibaca dalam lipatan literature- literature keagamaan islam yang amat kaya dalam berbagai perpustakaan di dalam maupun di luar negeri. Hanya lewat kajian cara berpikir orang yang hidup saat itu. Orang merekonstruksi corak spirituslitas yang diidolakan dan dipraktikan orang dalam sehari-hari saat itu, bukankah literatur dan karya sastra pada umumnya, merupakan potret sejarah dan sekaligus cermin berpikir yang telah mengendap berpuluh atau mungkin berates tahun sebelumnya. (190)




No comments:

Post a Comment